About Me

My photo
Jakarta, Indonesia
An Indonesian journalist based in Jakarta. If you have any questions please don't hesitate to ask at oktofani.elisabeth [at] gmail.com
Showing posts with label UNESCO. Show all posts
Showing posts with label UNESCO. Show all posts

Sunday, 23 October 2011

Pengelola Bantah Candi Borobudur Tidak Terawat


Sebagian candi Borobudur sempat ditutup untuk dibersihkan dari sisa abu vulkanik Gunung Merapi.

Balai Konservasi Peninggalan Borobudur (BKPB) membantah isu bahwa Candi Borobudur terancam akan dicoret dari daftar warisan budaya dunia oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Culture Organization) karena kotor dan tidak terawat.

Kepala BKPB Marsis Sutopo mengatakan pada beritasatu, Minggu (23/10), bahwa pihaknya tidak pernah menerima teguran maupun rekomendasi dari UNESCO atas kondisi Candi Borobudur yang dikabarkan tidak terawat.

"Kami melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap Candi Borobudur setiap tahun. Hasil evaluasi tersebut selalu kami jadikan sebagai bahan untuk membuat laporan tahunan yang kami kirimkan ke sidang UNESCO," tutur Marsis.

"Dari laporan terakhir yang kami kirimkan ke sidang UNESCO di Paris pada Februari 2011, kami tidak mendapatkan teguran atau rekomendasi dari UNESCO akan keadaan Candi Borobudur yang tidak terawat," tambahnya.

Lebih lanjut, Marsis menjelaskan bahwa Balai Konservasi Peninggalan Borobudur baru membuka kembali lantai delapan, sembilan, dan sepuluh untuk wisatawan pada 22 September lalu.

Sebelumnya, ketiga lantai tersebut ditutup untuk proses pembersihan abu vulkanik yang menempel pada batuan candi dari erupsi Gunung Merapi pada Oktober 2010 lalu.

"Erupsi Gunung Merapi pada Oktober tahun lalu telah mengakibatkan abu vulkanik masuk ke rongga stupa dan batu candi yang dapat mengakibatkan rusaknya batu-batuan candi," kata Marsis.

"Apalagi mengingat bahwa abu vulkanik memilik sifat asam. Oleh karena itu, rongga stupa dan batu candi harus dibersihkan agar dapat dikunjungi," tambahnya.

Marsis juga menerangkan bahwa UNESCO membantu membersihkan candi dengan memberdayakan masyarakat setempat dengan petunjuk dari Balai Konservasi Borobudur selama membersihkan Candi Borobudur dari abu vulkanik Gunung Merapi.

"Kami masih perlu membersihkan dan memperbaiki lantai tiga, empat, dan lima karena terjadinya kebocoran lapisan kedap air di beberapa dinding candi yang dapat mengakibatkan adanya pelapukan bantuan candi," katanya."Kami berharap semuanya dapat diselesaikan pada akhir November mendatang."

Marsis menambahkan bahwa setidaknya negara mengalokasikan APBN sebesar Rp1 milliar untuk melakukan monitoring dan perawatan Candi Borobudur.

Thursday, 9 June 2011

Producers Push for Kretek to Join Batik on World Heritage List

Surabaya. Amid growing demands from anti-smoking activists for tougher tobacco regulations and bans on smoking in public, cigarette lobbyists have suggested that the government apply for world heritage status for clove cigarettes.

Wahyu Hidayat, secretary general of the Association of Small-scale Clove Cigarettes Producers, said on Wednesday that clove cigarettes, known as kretek, were as much a part of Indonesian culture as batik.

While clove cigarettes can be found outside of Indonesia, kretek cigarettes originated with the Mataram sultanate in 17th century and Princess Rara Mendut, Wahyu said.

“Producing kretek cigarettes started in the era of Rara Mendut,” he said.

“The inspiration for kretek cigarettes came from here.”

Wahyu said that once kretek was registered on the World Heritage List maintained by the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco), he hoped it would prompt the government to pay more attention to the “ailing kretek cigarette industry.”

He said that kretek producers were struggling to compete with large cigarette manufacturers producing regular cigarettes.

“The tobacco tax is also a major burden on us,” he said.

However, Samsul Arifien, head of the East Java Agriculture Office, said the suggestion was not likely to be considered.

“Kretek cannot be compared to batik,” he said. “All levels of Indonesian society wear batik. As for kretek, must we force people to start smoking?”

I Gusti Ngurah Putra, a spokesman for the Ministry of Culture and Tourism, told the Jakarta Globe on Wednesday that the ministry had not received any requests to register kretek for Unesco world heritage status.

“However, we will welcome all cultural heritage suggestions that are registered by any citizen,” Putra said.

Indonesia is the only country in the Asia-Pacific region that has not yet ratified the World Health Organization’s Framework Convention on Tobacco Control. The agreement requires members to ban all tobacco advertising, including sponsorships and promotions and create no-smoking zones.

The lack of action has led activists to describe Indonesian programs to fight tobacco addiction, especially among young smokers, as the “worst in the world.”

Official data show that more than 60 percent of Indonesian men are cigarette smokers, while more than 43 million children live with smokers.

Unesco has already recognized batik, the kris (Javanese ceremonial dagger) and the angklung musical instrument as world cultural heritage items from Indonesia.